Monday, 1 December 2014

AKIDAH SELAMAT,AKIDAH SALAFUSOLEH

Dalil-dalil dari Al-Quran

Allah berfirman:

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu). Maka Allah akan memeliharamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
[Al-Baqarah: 137]

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rah (wafat 751H) berkata: “Melalui ayat ini Allah menjadikan iman para Sahabat Nabi sebagai timbangan (ukuran) untuk membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebathilan. Apabila Ahlul Kitab beriman sebagaimana berimannya para Sahabat Nabi, maka sungguh mereka mendapat hidayah (petunjuk) yang mutlak dan sempurna. Jika mereka (Ahlul Kitab) berpaling (tidak beriman) sebagaimana berimannya para Sahabat, maka mereka jatuh ke dalam perpecahan, perselisihan, dan kesesatan yang sangat jauh ...” 

Kemudian beliau rah melanjutkan: “Memohon hidayah dan iman adalah sebesar-besar kewajipan, menjauhkan perselisihan dan kesesatan adalah wajib; jadi mengikuti (manhaj) Sahabat Nabi  adalah kewajiban yang paling wajib (utama).”
[Bashaa-ir Dzawii Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajis Salaf (hal. 53) karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali]

Firman Allah:

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepada-mu agar kamu bertaqwa.”
[Al-An’aam: 153]

Ayat ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud r.a bahwa jalan itu hanya satu, sedangkan jalan selainnya adalah jalan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan jalannya ahli bid’ah.

Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Imam Mujahid ketika menafsirkan ayat ini. Jalan yang satu ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para Sahabatnya r.anhum. Jalan ini adalah ash-Shirath al-Mustaqiim yang wajib atas setiap Muslim menempuhnya dan jalan inilah yang akan menuju kepada Allah Azza wa Jalla.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa jalan yang menghantarkan seseorang kepada Allah hanya SATU… Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Allah kecuali melalui jalan yang satu ini.
[Tafsiirul Qayyim libnil Qayyim (hal. 14-15)]

Allah berfirman:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”
[An-Nisaa': 115]

Ayat ini menunjukkan bahwa menyalahi jalannya kaum Mukminin sebagai sebab seseorang terjatuh ke dalam jalan-jalan kesesatan dan diancam dengan masuk Neraka Jahannam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa mengikuti Rasulullah SAW adalah sebesar-besar prinsip dalam Islam yang mempunyai ikatan wajipnya umat Islam untuk mengikuti jalannya kaum Mukminin sedangkan jalannya kaum Mukminin pada ayat ini adalah keyakinan, perkataan dan perbuatan para Sahabat r.anhum. Karena, ketika turunnya wahyu tidak ada orang yang beriman kecuali para Sahabat, seperti firman Allah: 

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur-an yang diturunkan kepada-nya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman.”
[Al-Baqarah: 285]

Orang-orang Mukmin ketika itu hanyalah para Sahabat r.anhum, tidak ada yang lain.

Ayat di atas menunjukkan bahwasanya mengikuti jalan para Sahabat dalam memahami syari’at adalah wajip dan menyalahinya adalah kesesatan.
[Bashaa-ir Dzawii Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajis Salaf (hal. 54)]

Firman Allah:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang terawal (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah redha terhadap mereka dan mereka redha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
[At-Taubah: 100]

Ayat tersebut sebagai hujjah bahwa manhaj para Sahabat r.anhum adalah benar. Orang yang mengikuti mereka akan mendapatkan keredhaan dari Allah dan disediakan bagi mereka syurga. Mengikuti manhaj mereka adalah wajip atas setiap Mukmin. Kalau mereka tidak mahu mengikuti maka mereka akan mendapat hukuman dan tidak mendapat keredhaan Allah. Hal ini harus diperhatikan.
[Bashaa-ir Dzawii Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajis Salaf (hal. 43)]

Firman Allah:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah...”
[Ali ‘Imran: 110]

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan keutamaan atas sekalian ummat-ummat yang ada dan hal ini menunjukkan keistiqamahan para Sahabat dalam setiap keadaan karena mereka tidak menyimpang dari syari’at yang terang benderang, sehingga Allah mempersaksikan bahwa mereka memerintahkan setiap kema’rufan (kebaikan) dan mencegah setiap kemungkaran. Hal tersebut menunjukkan dengan pasti bahwa pemahaman mereka (Sahabat) adalah hujjah atas orang-orang setelah mereka sampai mewariskan bumi dan seisinya.
[Lihat Limaadza Ikhtartul Manhajas Salafi (hal. 86), oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly]

Dalil-Dalil Dari As-Sunnah (Al-Hadits)

‘Abdullah bin Mas‘ud r.a berkata:

Rasulullah SAW membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’
Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tidak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaitan yang menyeru kepadanya.’
Selanjutnya baginda SAW membaca firman Allah: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.’[Al-An’aam: 153]
[Hadits shahih riwayat Ahmad (I/435, 465), ad-Darimy (I/67-68), al-Hakim (II/318), Syarhus Sunnah lil Imaam al-Baghawy (no. 97), dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam As-Sunnah libni Abi ‘Ashim no. 17. Tafsir an-Nasa-i (no. 194). Adapun tambahan (mutafarriqatun) diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/435)]

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda:

‘Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.’
[Muttafaq ‘alaihi. HR. Al-Bukhari (no.2652, 3651, 6429, 6658) dan Muslim (no.2533 (212)) dan lainnya dari Sahabat Ibnu Mas’ud r.a. Hadits ini mutawatir sebagaimana telah ditegaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Ishaabah (I/12), al-Munawi dalam Faidhul Qadiir (III/478) serta disetujui oleh al-Kattaani dalam kitab Nadhmul Mutanaatsir (hal 127). Lihat Limaadzaa Ikhtartul Manhajas Salafi (hal. 87)]

Dalam hadits ini Rasulullah saw mengisyaratkan tentang kebaikan dan keutamaan mereka, yang merupakan sebaik-baik manusia. Sedangkan perkataan ‘sebaik-baik manusia’ yaitu tentang ‘aqidahnya, manhajnya, akhlaknya, dakwahnya dan lain-lainnya. Oleh karena itu mereka dikatakan sebaik-baik manusia.
[Limaadzaa Ikhtartul Manhajas Salafi (hal. 86-87)]

Dalam riwayat lain disebutkan dengan kata (خَيْرُكُمْ) ‘sebaik-baik kalian’ dan dalam riwayat yang lain disebutkan (خَيْرُ أُمَّتِيْ)‘sebaik-baik ummatku.’

Ibnu Mas’ud RA berkata:

“Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah pilih Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya dan Allah memberikan risalah kepadanya, kemudian Allah melihat dari seluruh hati hamba-hamba-Nya setelah Nabi-Nya, maka didapati bahwa hati para Sahabat merupakan hati yang paling baik sesudahnya, maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang mereka berperang untuk agama-Nya. Apa yang dipandang kaum Muslimin (para Sahabat Rasul) itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah dan apa yang mereka (para Sahabat Rasul) pandang buruk, maka di sisi Allah hal itu adalah buruk.”
[HR. Ahmad (I/379), dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir (no. 3600). Lihat Majma’uz Zawaa-id (I/177-178). Diriwayatkan juga oleh al-Hakim (III/78), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir (IX, no. 8582) dan al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah]

Dalam hadits lain pun disebutkan tentang kewajiban kita mengikuti manhaj Salafush Shalih (para Sahabat), yaitu hadits yang terkenal dengan hadits ‘Irbadh bin Sariyah, hadits ini terdapat pula dalam al-Arba’in an-Nawawiyyah (no. 28):

Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah RA:

“Suatu hari Rasulullah SAW pernah shalat bersama kami kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah nasihat ini seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’
Maka Rasulullah SAW bersabda: ‘Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habsyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa Ar Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.”
[HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimy (I/44), al-Baghawy dalam kitabnya Syarhus Sunnah (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi. Syaikh al-Albani juga menshahihkan hadits ini dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2455)]

Nabi SAW mengkhabarkan tentang akan terjadinya perpecahan dan perselisihan pada ummatnya, kemudian Rasulullah SAW memberikan jalan keluar untuk selamat dunia dan akhirat, iaitu dengan mengikuti Sunnahnya dan Sunnah para Sahabatnya r.anhum.
Hal ini menunjukkan tentang wajibnya mengikuti Sunnahnya (Sunnah Nabi SAW) dan Sunnah para Sahabatnya r.anhum.

Kemudian dalam hadits yang lain, ketika Rasulullah SAW menyebutkan tentang hadits iftiraq (akan terpecahnya umat ini menjadi 73 golongan), baginda bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sesungguhnya (ummat) agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.”
[ HR. Abu Dawud (no. 4597), Ahmad (IV/102), al-Hakim (I/128), ad-Darimi (II/241), al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah, al-Lalikai dalam as-Sunnah (I/113 no. 150). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dari Mu’a-wiyah bin Abi Sufyan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan hadits ini shahih masyhur. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 203-204)]

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para Sahabatku berjalan di atasnya.”
[HR. At-Tirmidzi (no. 2641) dan al-Hakim (I/129) dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (no. 5343). Lihat Dar-ul Irtiyaab ‘an Hadiits maa Anaa ‘alaihi wa Ash-haabii oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Darur Rayah, th. 1410H]

Hadits iftiraq tersebut juga menunjukkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semua binasa kecuali satu golongan, yaitu yang mengikuti apa yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabatnya RA. Jadi, jalan selamat itu hanya satu, yaitu mengikuti Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih (para Sahabat). 

Hadits di atas menunjukkan bahwa setiap orang yang mengikuti Nabi SAW dan para Sahabatnya adalah termasuk ke dalam al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat). Sedangkan yang menyelisihi (tidak mengikuti) para Sahabat, maka mereka adalah golongan yang binasa dan akan mendapat ancaman dengan masuk ke dalam Neraka. 

Dalil-Dalil Dari Penjelasan Para Ulama

‘Abdullah bin Mas’ud RA berkata:

“Hendaklah kalian mengikuti dan janganlah kalian berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi dengan Islam ini, dan setiap bid’ah adalah sesat.”
[Diriwayatkan oleh ad-Darimi (I/69), al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/96 no.104), ath-Thabrani dalam Mu’jaamul Kabiir (no.8770), dan Ibnu Baththah dalam al-Ibaanah (no.175)]

‘Abdullah bin Mas’ud RA mengatakan:

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Sahabat Rasulullah. Kerana sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Baar dalam kitabnya Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih (II/947 no.1810), tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairi]

Imam al-Auza’i (wafat tahun 157H) rah mengatakan: 

“Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Sahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih karena ia akan mencukupimu apa saja yang mencukupi mereka.”
[Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/174 no.315)]

Beliau rahimahullah juga berkata:

“Hendaklah engkau berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah dirimu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.”
[Imam al-Ajurri dalam asy-Syarii’ah (I/445, no.127) dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluww lil Imaam adz-Dzahabi (hal.138), Siyar A’laamin Nubalaa’ (VII/120) dan Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (II/1071, no.2077)]

Muhammad bin Sirin (wafat tahun 110H) rah berkata:

Mereka mengatakan: ‘Jika ada seseorang berada di atas atsar (Sunnah), maka sesungguhnya ia berada di atas jalan yang lurus.’
[HR. Ad-Darimi (I/54), Ibnu Baththah dalam al-Ibaanah ‘an Syarii’atil Firqatin Naajiyah (I/356, no.242). Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah oleh al-Lalika-i (I/98 no.109)] 

Imam Ahmad (wafat tahun 241H) rah berkata:

“Prinsip Ahlus Sunnah adalah berpegang dengan apa yang dilaksanakan oleh para Sahabat RA dan mengikuti jejak mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”
[Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa‘ah oleh al-Lalika-i (I/176, no.317)]

Jadi dari penjelasan tersebut di atas dapat dikatakan bahwa Ahlus Sunnah meyakini bahwa kema’shuman dan keselamatan hanya ada pada manhaj Salaf. Bahwasanya seluruh manhaj yang tidak berlandaskan kepada Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih adalah menyimpang dari ash-Shirath al-Mustaqiim, penyimpangan itu sesuai dengan kadar jauhnya mereka dari manhaj Salaf. Kebenaran yang ada pada mereka juga sesuai dengan kadar kedekatan mereka dengan manhaj Salaf. Sekiranya para pengikut manhaj-manhaj menyimpang itu mengikuti pedoman manhaj mereka, niscaya mereka tidak akan dapat mewujudkan hakekat penghambaan diri kepada Allah Azza wa Jalla sebagaimana mestinya selama mereka jauh dari manhaj Salaf. Sekiranya mereka berhasil meraih tampuk kekuasaan tidak berdasarkan pada manhaj yang lurus ini, maka janganlah terpedaya dengan hasil yang mereka peroleh itu. Karena kekuasaan hakiki yang dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah bagi orang-orang yang berada di atas manhaj Salaf ini. Janganlah kita merasa terasing karena sedikitnya orang-orang yang mengikuti kebenaran dan jangan pula kita terpedaya karena banyaknya orang-orang yang tersesat.

Ahlus Sunnah meyakini bahwa generasi akhir ummat ini hanya akan menjadi baik dengan apa yang menjadikan baik generasi awalnya. Alangkah meruginya orang-orang yang terpedaya dengan manhaj (metode) baru yang menyelisihi syari’at dan melupakan jerih payah Salafush Shalih. Manhaj (metode) baru itu semestinya dilihat dengan kacamata syari’at bukan sebaliknya.
[As-Siraajul Wahhaaj fii Bayaanil Minhaaj (hal. 81, no.166)]

Fudhail bin ‘Iyadh rah berkata:

“Ikutilah jalan-jalan petunjuk (Sunnah), tidak membahayakanmu sedikitnya orang yang menempuh jalan tersebut. Jauhkan dirimu dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah engkau tertipu dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasaan.”
[Lihat al-I’tishaam (I/112)]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rah berkata:

“Barangsiapa yang berpaling dari madzhab Sahabat dan Tabi’in dan penafsiran mereka kepada yang menyelisihinya, maka ia telah salah bahkan (disebut) Ahlul Bid’ah. Jika ia sebagai mujtahid, maka kesalahannya akan diampuni. Kita mengetahui bahwa Al-Qur-an telah dibaca oleh para Sahabat, Tabi’in dan yang mengikuti mereka, dan sungguh mereka lebih mengetahui tentang penafsiran Al-Qur-an dan makna-maknanya, sebagaimana mereka lebih mengetahui tentang kebenaran yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya.”
[Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (XIII/361-362)]

Perhatian Para Ulama Terhadap ‘Aqidah Salafush Shalih

Sesungguhnya para ulama mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap ‘aqidah Salafush Shalih. Mereka menulis kitab-kitab yang banyak sekali untuk menjelaskan dan menerangkan ‘aqidah Salaf ini, serta membantah orang-orang yang menentang dan menyalahi ‘aqidah ini dari berbagai macam firqah dan golongan yang sesat. Karena sesungguhnya ‘aqidah dan manhaj Salaf ini dikenal dengan riwayat bersambung yang sampai kepada imam-imam Ahlus Sunnah dan ditulis dengan penjelasan yang benar dan tepat. 

Adapun untuk mengetahui ‘aqidah dan manhaj Salaf ini, maka kita dapat melihat:

1) penyebutan lafazh-lafazh tentang ‘aqidah dan manhaj Salaf yang diriwayatkan oleh para Imam Ahlul Hadits dengan sanad-sanad yang shahih.
2) yang meriwayatkan ‘aqidah dan manhaj Salaf adalah seluruh ulama kaum Muslimin dari berbagai macam disiplin ilmu: Ahlul Ushul, Ahlul Fiqh, Ahlul Hadits, Ahlut Tafsir, dan yang lainnya.

Sehingga ‘aqidah dan manhaj Salaf ini diriwayatkan oleh para ulama dari berbagai disiplin ilmu secara mutawatir.

Penulisan dan pembukuan masalah ‘aqidah dan manhaj Salaf (seiring) bersamaan dengan penulisan dan pembukuan Sunnah Rasulullah SAW.

Pentingnya ‘aqidah Salaf ini di antara ‘aqidah-‘aqidah yang lainnya, yaitu antara lain:

1) Bahwa dengan ‘aqidah Salaf ini, seorang Muslim akan mengagungkan Al-Quran dan As-Sunnah, adapun ‘aqidah yang lain karena mashdarnya (sumbernya) hawa nafsu, maka mereka akan mempermainkan dalil, sedang dalil dan tafsirnya mengikuti hawa nafsu. 

2) Bahwa dengan ‘aqidah Salaf ini akan mengikat seorang Muslim dengan generasi yang pertama, yaitu para Sahabat RA yang mereka itu adalah sebaik-baik manusia dan ummat.

3) Bahwa dengan ‘aqidah Salaf ini, kaum Muslimin dan da’i-da’inya akan bersatu, sehingga dapat mencapai kemuliaan serta menjadi sebaik-baik ummat. Hal ini kerana ‘aqidah Salaf ini berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah menurut pemahaman para Sahabat. Adapun ‘aqidah selain ‘aqidah Salaf ini, maka dengannya tidak akan tercapai persatuan bahkan yang akan terjadi adalah perpecahan dan kehancuran.

Imam Malik rah berkata:

“Tidak akan dapat memperbaiki ummat ini melainkan dengan apa yang telah membuat baik generasi pertama ummat ini (Sahabat).”
[Lihat at-Tamhiid karya Ibnu ‘Abdil Barr (XV/292), tahqiq Usamah bin Ibrahim, Ighaatsatul Lahfaan min Mashaayidhisy Syaithaan (I/313) oleh Ibnul Qayyim, tahqiq Khalid ‘Abdul Lathif as-Sab’il ‘Alami, cet. Darul Kitab al-‘Arabi, th. 1422H dan Sittu Durar min Ushuuli Ahlil Atsar (hal.73) oleh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani]

4) ‘Aqidah Salaf ini jelas, mudah dan jauh dari ta’wil, ta’thil dan tasybih. Oleh kerana itu, dengan kemudahan ini setiap Muslim akan mengagungkan Allah SWT dan akan merasa tenang dengan qadha’ dan qadar Allah SWT.

5) ‘Aqidah Salaf ini adalah aqidah yang selamat, kerana Salafus Shalih lebih selamat, lebih tahu dan lebih bijaksana (aslam, a’lam, ahkam). Dengan ‘aqidah Salaf ini akan membawa kepada keselamatan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu berpegang pada ‘aqidah Salaf ini.

Doa pada Allah agar dilimpahkan kefahaman dan ilmu.
Kekalkan petunjuk-Nya.

No comments:

Post a Comment